Selasa, 30 September 2014

ALWAYS REMEMBER ALLAH SWT

Mungkin kau tak tahu di mana rizqimu. Tapi
rizqimu tahu di mana engkau. Dari langit, laut,
gunung, & lembah; Rabb memerintahkannya
menujumu.
Allah berjanji menjamin rizqimu. Maka
melalaikan ketaatan padaNya demi
mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminNya
adalah kekeliruan berganda.
Tugas kita bukan mengkhawatiri rizqi atau
bermuluk cita memiliki; melainkan menyiapkan
jawaban "Dari Mana" & "Untuk Apa" atas tiap
karunia.
Betapa banyak orang bercita menggenggam
dunia; dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah
yang tertulis dalam angka; tapi apa yang
dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting
tulangnya, memeras keringatnya; demi angka
simpanan gaji yang mungkin esok pagi
ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai
mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita.
Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu
urusanNya.
Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat &
berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di
pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.
Bukankah Hajar berlari 7x bolak-balik dari Shafa
ke Marwa; tapi Zam-zam justru terbit di kaki
bayinya? Ikhtiar itu laku perbuatan. Rizqi itu
kejutan.
Ia kejutan tuk disyukuri hamba bertaqwa; datang
dari arah tak terduga. Tugasnya cuma
menempuh jalan halal; Allah lah yang
melimpahkan bekal.
Sekali lagi; yang terpenting di tiap kali kita
meminta & Allah memberi karunia; jaga sikap
saat menjemputnya & jawab soalanNya, "Buat
apa?"
Betapa banyak yang merasa memiliki manisnya
dunia; lupa bahwa semua hanya "hak pakai"
yang halalnya akan dihisab & haramnya akan
di'adzab.
Banyak yang mencampakkan keikhlasan 'amal
demi tambahan harta, plus dibumbui kata tuk
bantu sesama; lupa bahwa 'ibadah apapun
semata atas pertolonganNya.
Dengan itu kita mohon "Ihdinash Shirathal
Mustaqim"; petunjuk ke jalan orang nan diberi
nikmat ikhlas di dunia & nikmat ridhaNya di
akhirat.
Maka segala puji bagi Allah; hanya dengan
nikmatNya-lah menjadi sempurna semua
kebajikan.

0 komentar:

Posting Komentar